Oleh Wisnu Kisawa
PADA mulanya suka dengan dunia musik. Lalu penasaran dengan dance music yang bisa nyambung terus nyaris tanpa jeda. Seterusnya, setelah bekerja di salah satu stasiun radio, rasa suka dan penasaran itu semakin tumbuh dan terus menuntun laki-laki ini sebagai seorang disc jockey (DJ).
Itulah perjalanan karier dari dj Joseph (Jojo Manifesto). Bagi para clubbers, tentu ia bukanlah orang yang asing lagi. Sering tampil di sejumlah club khususnya di Music Room (Musro) The Sunan Hotel, sepak terjangnya dalam meracik musik yang ’’ngebeat’’ memang sudah begitu dikenal luas oleh para pecinta dunia hiburan moderen.
’’Tahun 2004, saya mulai berprofesi sebagai DJ. Mulanya ngedeje dengan mixing pakai software dan diputar di salah satu stasiun radio setiap Sabtu. Setelah itu baru kemudian main di beberapa club di Solo, Yogyakarta dan Semarang,’’ kata DJ yang tinggal di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo itu.
Begitulah, pada mulanya memang suka dengan musik. Dan boleh jadi itu tidak hanya dialami oleh DJ Jojo seorang, tapi juga dengan DJ-DJ yang lainnya. Paling tidak, mencintai dunia musik adalah hal yang tak bisa ditawar bagi mereka. Bayangkan, bagaimana jadinya seorang dj yang tak mencintai dunia musik.
’’Kreatifitas antara DJ yang satu dengan dj yang lain tentu akan memunculkan ciri khas yang berbeda-beda. Dan itu akan bergantung dengan kepekaan musikalitasnya,’’ kata DJ Jojo.
Fans Fanatik
Dalam dunia hiburan di Kota Solo sendiri ada banyak nama DJ yang berkibar. Namun jangan disangka hanya dari Jakarta (nasional) saja yang digemari.
Bukan, bukan hanya nama-nama seperti DJ Riri, DJ Winky, DJ Naro, DJ Romy, DJ Milinka, DJ Devina dan DJ Alice Norin saja. Namun di luar mereka juga ada lokal yang selain DJ Jojo Manifesto masih ada lagi DJ Robert, DJ Felix, DJ Angie dan DJ Holza.
’’Masing - masing dj memiliki fans fanatik tersendiri. Tapi yang menarik, saat ini DJ lokal semakin menyita perhatian para clubbers. Banyak dj lokal yang memiliki potensi untuk berkembang dan tumbuh menjadi dj papan atas negeri ini,’’ kata Retno Wulandari, Public Relations Manager The Sunan Hotel yang ikut mengelola Musro.
Ya, sangat mungkin itu terjadi memang. Sebab kemampuan dj lokal dalam urusan memancing gairah clubbers sesungguhnya juga tak kalah kreatif dengan DJ nasional.
Dalam atraktifitas jemari mereka, musikalitas (dance music) yang terdengar tidak akan kalah eksploratif dengan yang sudah berada di tataran nasional.
’’Saya kira cukup banyak memang DJ lokal yang memiliki potensi yang tak kalah dengan DJ nasional,’’ tandas Retno Wulandari.
Jika sudah demikian, sekali waktu di akhir pekan datanglah ke Musro The Sunan Hotel dalam gelaran Rave Republic. Lalu saat para dj itu sudah bermain, nikmatilah racikan musiknya. Disanalah rasa penat itu akan hilang.(64)
Minggu, 21 Juni 2009
Langganan:
Komentar (Atom)